NARASI21.ID (BONE BOLANGO) – Laut Botutonuo di Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, dulunya disebut warga sebagai “laut mati.” Terumbu karang yang dulu menjadi rumah ribuan biota laut berubah menjadi patahan karang mati akibat aktivitas manusia, pencemaran, dan perubahan iklim.
Namun kini, warna biru laut kembali berpendar, memantulkan kehidupan baru di bawah permukaan.
Ribuan karang muda tumbuh di atas rangka baja heksagonal hasil kolaborasi antara peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG), pemerintah, dan masyarakat pesisir.
Inisiatif konservasi yang dimulai pada 2018 ini kini menjadi kisah inspiratif tentang bagaimana pengetahuan, kebijakan, dan kepedulian masyarakat berpadu menyelamatkan ekosistem laut.
Awal Pemulihan dari Laut yang Mati
Kepala Pusat Kemaritiman LPPM UNG, Prof. Dr. Femy Mahmud Sahami, S.Pi., M.Si., mengenang awal mula pemulihan Botutonuo yang berangkat dari kondisi memprihatinkan.
“Awalnya karang di situ sudah banyak rusak, dan masyarakat mengaku tidak ada ikan lagi. Itu sebabnya kami memilih Botutonuo sebagai lokasi rehabilitasi,” ungkap Femy
Femy menjelaskan upaya pertama dilakukan pada 2018 dengan media balok beton di kedalaman tiga meter. Dalam enam bulan, ikan-ikan mulai kembali, menandakan habitat perlahan pulih. Namun pandemi COVID-19 di tahun 2020 menghentikan sebagian besar aktivitas lapangan. Banyak meja beton tergeser arus, dan hanya 30 persen fragmen karang yang bertahan.
Tantangan berlanjut pada 2021, saat kawasan rehabilitasi diserang bintang laut berduri (Acanthaster planci) dan sebagian rusak karena pembangunan dermaga. Tim UNG bersama masyarakat melakukan edukasi dan pemberantasan predator karang secara manual.
Inovasi: Dari Beton ke Rangka Baja Heksagonal
Tahun 2022 menjadi titik balik. Metode beton digantikan oleh spider reef frame rangka baja berbentuk jaring heksagonal yang lebih kokoh menghadapi arus kuat dasar laut Barrier Reef Botutonuo.
“Sebanyak 85 unit spider reef dipasang di area seluas 115 meter persegi. Dalam tiga bulan, pertumbuhan karang rata-rata mencapai 1,72 cm dan jumlah ikan meningkat signifikan,” jelas Prof. Femy
Tahun berikutnya, mahasiswa UNG meneliti dua jenis karang dominan Acropora tabulate dan Acropora branching. Hasilnya, jenis tabulate menunjukkan pertumbuhan lebih cepat dan stabil.
Momentum berlanjut pada 2024 dengan pemasangan 150 unit tambahan berisi 1.050 fragmen karang. Pemantauan menunjukkan tingkat hidup 100 persen, dengan pertumbuhan rata-rata 0,95 cm dalam dua bulan. Populasi ikan meningkat dari 704 menjadi 740 individu, terdiri atas 71 spesies dari 18 famili.
“Data ini memperlihatkan peningkatan luas area karang hidup dan keanekaragaman ikan karang yang signifikan,” jelas Prof. Femy menambahkan
Alinton Pisuna: Pahlawan Lokal Penjaga Laut
Di balik suksesnya konservasi ini, ada sosok sederhana bernama Alinton Pisuna, Ketua Kelompok Barrier Reef Botutonuo. Setiap akhir pekan, Alinton dan kelompoknya menyelam untuk memastikan karang-karang muda tetap tumbuh sehat.
“Dulu waktu kecil, laut ini indah sekali. Tapi lama-lama rusak karena penangkapan tak ramah lingkungan dan wisata yang merusak karang,” kenangnya.
Alinton terlibat aktif sejak 2017 dan memimpin tiga kali penanaman besar bersama 15 anggota kelompoknya. Mereka bekerja manual di kedalaman 5–7 meter, hanya menggunakan alat snorkeling.
“Kami ganti karang yang mati, bersihkan lumut, dan pantau pertumbuhannya tiap minggu. Kami ingin laut ini kembali seperti dulu,” katanya.
Atas dedikasi itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menganugerahkan Alinton gelar Local Hero Konservasi Laut 2024 penghargaan pertama yang diterima warga Gorontalo di bidang konservasi laut.
Menumbuhkan Generasi Cinta Laut
Konservasi Botutonuo tidak hanya menyelamatkan ekosistem, tapi juga menanamkan cinta laut pada generasi muda. Setiap tahun, siswa Brilli Kids Leadership Elementary School datang menanam karang bersama masyarakat.
Kepala sekolah, Ika Rahmawati Hadikum, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari pendidikan kepemimpinan.
“Kami ingin anak-anak belajar empati pada alam. Mereka tanam karang sendiri dan melihat hasilnya tumbuh. Dari situ mereka belajar bahwa menjaga alam itu tindakan, bukan sekadar wacana,” ujarnya.
Program ini sudah berjalan tiga tahun dan menjadi model edukasi lingkungan berbasis kolaborasi antara akademisi, sekolah, dan masyarakat pesisir.
Dukungan Pemerintah Provinsi
Menurut Syafrie A.B. Kasim, Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut DKP Provinsi Gorontalo, Botutonuo masuk dalam zona konservasi prioritas Teluk Gorontalo.
“Barrier reef di sana berfungsi menahan abrasi, jadi kami dorong terus konservasinya. Pemerintah juga bantu lewat program Laut Sejahtera (Lautra) dari KKP untuk pengadaan alat selam dan pelatihan monitoring biofisik,” jelasnya.
Kini, laut Botutonuo bukan lagi “laut mati”. Di bawah permukaannya, karang muda tumbuh, ikan menari, dan kehidupan kembali berdenyut.
Satu karang tumbuh, satu ikan kembali, satu harapan lahir. Dari Botutonuo, Gorontalo mengirim pesan kepada dunia: ketika pengetahuan, kebijakan, dan masyarakat berpadu, laut bukan hanya bisa diselamatkan, tetapi bisa hidup kembali.



