NARASI21.ID – Sejumlah sopir truk mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di SPBU Tilamuta, Kabupaten Boalemo.
Keluhan tersebut muncul karena banyaknya pengisian solar menggunakan galon atau jeriken yang dinilai menghambat antrean kendaraan yang hendak mengisi BBM.
Salah seorang sopir truk yang menghubungi awak media via WhatsApp mengungkapkan bahwa keberadaan banyak galon yang berseliweran di area SPBU membuat para sopir harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan solar. Bahkan tidak jarang mereka harus pulang tanpa mendapatkan jatah BBM.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup merugikan para sopir truk yang menggantungkan pekerjaan mereka pada ketersediaan solar untuk mengangkut barang dari satu daerah ke daerah lain.
“Banyak galon yang keluar masuk di SPBU. Akibatnya kami yang menggunakan kendaraan harus antre lama, bahkan kadang tidak kebagian solar,” keluhnya.
Ia berharap pengisian solar lebih diprioritaskan bagi kendaraan operasional seperti truk dan kendaraan angkutan barang yang memang menggunakan BBM tersebut untuk aktivitas kerja sehari-hari.
Sementara itu, saat wartawan media Narasi21.id melakukan investigasi langsung di lapangan, terlihat petugas SPBU sedang melayani pengisian BBM jenis solar ke dalam galon atau jeriken yang dibawa oleh sejumlah warga.
Beberapa pembeli tampak membawa jeriken untuk diisi solar. Salah seorang di antaranya mengatakan bahwa pengisian tersebut dilakukan karena mereka memiliki rekomendasi dari instansi terkait untuk kebutuhan melaut.
“Kami mengambil solar menggunakan jeriken karena ada rekomendasi dari dinas. Ini untuk kebutuhan melaut,” ujarnya singkat saat ditemui di lokasi.
Selain para sopir truk, keluhan juga datang dari pengendara roda empat maupun roda dua yang ikut mengantre di SPBU tersebut. Mereka mengaku antrean kendaraan sering kali memanjang hingga ke luar area SPBU.
Bahkan, kendaraan yang hendak mengisi solar kerap terlihat parkir hingga ke ruas Jalan Trans Sulawesi hingga menyebabkan kecelakaan pada beberapa waktu lalu. Kondisi ini menyebabkan penyempitan badan jalan dan memicu kemacetan di sekitar lokasi SPBU.
Beberapa pengendara menyebut antrean yang panjang tidak hanya menyulitkan mereka yang ingin mengisi BBM, tetapi juga mengganggu kelancaran arus lalu lintas bagi pengguna jalan lainnya.
“Kendaraan yang antre sampai keluar SPBU dan masuk ke badan jalan. Akibatnya jalan jadi sempit dan sering terjadi kemacetan,” ujar salah seorang pengendara.
Masyarakat berharap pihak pengelola SPBU bersama instansi terkait dapat melakukan penataan dan pengawasan yang lebih baik terhadap proses pengisian BBM, khususnya solar bersubsidi.
Pengawasan tersebut dinilai penting agar penyaluran BBM bersubsidi dapat berjalan lebih tertib, tepat sasaran, serta tidak menimbulkan antrean panjang yang berdampak pada kemacetan di jalur utama Trans Sulawesi.



