Tak Terima Ditertibkan, Pelaku PETI Mengaku Atas Perintah Kasubdit Tipidter

NARASI21.ID – Seorang pelaku Pertambangan Tanpa Izin (PETI) yang diketahui bernama Yosi Marten Basaur mengamuk di Mapolres Boalemo, Rabu (04/06). 

Sebelumnya, beredar video berdurasi 2 menit 44 detik memperlihatkan seorang pria mengamuk dihadapan Kapolres Boalemo lantaran Ia tidak terima atas tindakan preventif pihak kepolisian yang menertibkan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang dijalankannya di bantaran Sungai Desa Tenilo, Kecamatan Paguyaman.

Pria yang diketahui bernama Yosi Marten Basaur mengaku kegiatan PETI yang dilakukan atas perintah Kasubdit Tipidter.

“Kalau memang ada penertiban harus ada sprintnya. kasih liat sprintnya, yang perintahkan saya kerja disini Kasubdit Tipidter AKBP Firman, silahkan telefon pak Firman,” kata Marten dalam cuplikan video

Kapolres Boalemo AKBP Sigit Rahayudi, S.I.K melalui Kasi Humas Ipda Oyong Abas menjelaskan, insiden bermula pada Selasa (03/06) ketika tim Satreskrim Polres Boalemo yang dipimpin Kasat Reskrim Iptu Ahmad Fahri, S.H mendatangi lokasi PETI. 

Kegiatan tersebut bertujuan memberikan imbauan secara humanis kepada masyarakat agar menghentikan aktivitas tambang ilegal yang meresahkan warga.

“Marten yang diketahui sebagai koordinator PETI justru menghalangi petugas. Ia bersama seorang pria berinisial HS mempertanyakan surat tugas, bahkan mencoba mendokumentasikannya. Padahal tim membawa surat resmi yang ditandatangani oleh Kasat Reskrim,” ungkap Oyong.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun media narasi21.id Marten membawa masuk alat berat untuk mengeruk emas secara ilegal di bantaran sungai Desa Saripi Kecamatan Paguyaman. 

Aktivitas tersebut tidak hanya merusak lingkungan, tapi juga memicu keresahan masyarakat sekitar.

Tak hanya di lokasi tambang, ketegangan berlanjut di Mapolres. Sekitar pukul 15.00 WITA, Marten dan HS datang ke Polres Boalemo dengan nada tinggi. Keduanya menuntut penjelasan soal penertiban dan mencari Kasat Reskrim dengan cara yang dinilai arogan.

“Bahkan Marten sempat mengancam akan melaporkan Kapolres ke Wakapolda Gorontalo. Ia menyebut-nyebut nama pejabat Polda dan berbicara seolah-olah memiliki pengaruh besar. Situasi saat itu cukup memanas,” jelas Oyong.

Melihat eskalasi yang meningkat, Kapolres AKBP Sigit Rahayudi turun langsung ke lokasi kejadian untuk menenangkan keadaan. Setelah dilakukan mediasi, situasi berhasil dikendalikan.

Oyong menegaskan bahwa tindakan preventif terhadap PETI akan terus dilakukan demi menjaga ketertiban, mencegah kerusakan lingkungan, dan menghindari konflik sosial di tengah masyarakat.

REDAKSI – MITRO NANTO

Exit mobile version